3 Jul 2016

Makna Minal Aidin wal Faizin

Makna Minal Aidin wal Faizin

Ramadhan sudah diujung. Syawal menanti. Pernak-pernik ala-ala lebaran sudah mulai terlihat. Diantaranya kartu-kartu ucapan lebaran, dengan bubuhan teks dibawahnya "Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir Batin".

Ternyata, bukan secara tertulis saja. Saya pernah ketika silaturahim ke kerabat, setiap bersalaman dengan orang lain, dia mengucapkan "minal aidin". Saya konfirmasi tentang itu, dan dia bilang "karena itu artinya maaf lahir batin". What!?

karena kedua kalimat ini selalu digandeng,
tidak heran orang malah jadi keliru akan maknanya.


***
‎Ucapan Hari Raya yang Dicontohkan

Banyak hadist dan atsar shahih yang menjelaskan tentang hal ini. ‎Dan semua bernada sama, bahwa yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah "taqabbalallahu minna wa minkum". تقب الله منا و منكم
Yang artinya "semoga Allah menerima (amal ibadah) kami dan kamu sekalian". 

Kemudian, generasi sahabat menambahkan secara spesifik ibadah yang dimaksud, sehingga menjadi "taqabbalallahu minnaa wa minkum, shiyamanaa wa shiyamakum", تقبل الله منا ومنكم صيامنا وصيامكم
"semoga Allah menerima (amal ibadah) kami dan kamu sekalian, puasaku dan puasamu".‎ 

‎***
‎Lalu, Dari Mana Minal Aidin Nongol?

Banyak versi yang menjelaskan tentang ucapan minal aidin ini. Tapi, sesuai kapasitas saya, saya hanya bahas secara etimologis saja. 

Diantara versi yang ada, menjelaskan bahwa "minal aidin wal faizin" ‎adalah ucapan orang-orang terdahulu ketika kembali dari perang. Sebab artinya "semoga kita kembali dalam keadaan menang". 

Ucapan itu kemudian diapakai (entah sejak kapan) ketika hari raya, sebab telah usai berperang melawan nafsu ketika ramadhan.

Versi yang lain, "Aidin" عائدين diartikan sebagai "orang-orang yang sedang ied". Ied memang berarti "kembali", sebab, hari idul fitri akan terus "kembali", terulang setiap tahunnya. (Oh ya, btw, idul fitri artinya bukan kembali kepada fitrah! Another wrong translation)

Jadi, berdasarkan versi ini, minal aidin wal faizin diartikan "semoga kita menjadi pemenang di hari ied". Artinya, semoga amal ibadah puasa diterima, sehingga di hari ied dianggap pemenang oleh Allah. 

‎Kita bisa lihat, bahwa secara translation saja, minal aidin ga ada hubungannya sama maaf-maafan. Saya tidak tahu, sejak kapan ucapan ini disematkan dan dibelokkan maknanya menjadi "maaf lahir batin". ‎Hingga akhirnya media dan televisi menyebarluaskan kesalahan ini dan membodohi masyarakat. 

***
Boleh Ucap Minal Aidin?

‎Namanya do'a, ya boleh saja. Tapi, jika niatnya ingin mencontoh nabi, maka utamakan ucapan "taqabbalallahu minna wa minkum" dulu, baru tambahkan "minal aidin wal faizin". 

Berdoa mah boleh-boleh saja tiap waktu. Malah Tuhan senang dengan hamba yang berdo'a. Yang penting, tahu maknanya, dan sesuai pada tempatnya‎. Jangan cuma ikut-ikutan televisi. 

Kita berlindung kepada Allah dari kejahilan yang sistematis.
Semoga tulisan ini mencerdaskan dan bermanfaat.

Selamat Hari Raya
تقبل الله منا و منكم صيامنا و صيامكم
من العائدين و الفائزين
كل عام و أنتم بخير

salam,
Ince Ahmad Furqan





23 Apr 2016

Kenapa Kamu Terus Berbuat Baik?


dibenci manusia tidak mesti menjadikan kita penduduk neraka.
tapi, kalau dibenci Tuhan, siapa yang bisa menjamin kita surga?


ketika studi di Jawa Barat dulu, saya terkesan dengan seorang senior. wajahnya teduh dan selalu menebar senyum, namun kantung matanya legam. tampak tanda-tanda kurang tidur di wajahnya.

ternyata, sebagian waktunya habis digunakan untuk mengajari junior-juniornya untuk mengejar ketertinggalan pelajaran di kampus, saya salah satunya. kemudian dia gunakan sisa malamnya untuk belajar bagi dirinya sendiri.

entah kenapa, ada saja orang yang tidak suka dengannya. mungkin karena dia memilih untuk mengajar junior menggunakan bahasa Indonesia, sebuah hal yang "haram" digunakan di kampus berbahasa arab itu.

tapi, karena kecerdasannya, dia tetap menjadi tempat bertanya, bahkan oleh para 'musuhnya' itu.

saya bertanya, "kenapa mengasihi orang yang membenci kita?"

"pro dan kontra itu biasa. bahkan dalam kebaikan. tidak masalah kita dibenci, asal kita dalam kebaikan.
itu lebih baik, daripada kita berhenti berbuat kebaikan untuk menyenangkan sebagian orang,
tapi Tuhan malah benci karena manfaat kita tidak mengalir lagi.

dibenci manusia tidak mesti menjadikan kita penduduk neraka.
tapi, kalau dibenci Tuhan, siapa yang bisa menjamin kita surga?"


***
terakhir dia menelepon saya, sekitar 2 tahun lalu, dan dia sudah berdomisili di Arab Saudi.
tapi percakapan itu akan terus menginspirasi, tentang kenapa kita harus TERUS berbuat baik.



8 Apr 2016

Cahaya Matahari, Bulan, dan Al-Quran

Ketika Shalat Jum'at tadi, saya mendengar imam membaca rangkaian surat Nuh, di antaranya yang bunyinya:

وجعل القمر فيهن نورا وجعل الشمس سراجا
artinya, "dan Dia menjadikan bulan bercahaya, dan menjadikan matahari berpelita" (Nuh 71:16)

Ketika berjalan pulang, saya teringat terus pada ayat tersebut. sebab, ayat tersebut menunjukkan sebuah sains pada kita: bahwa bulan tidak memiliki cahaya tersendiri.





***
Cahaya Matahari dan Bulan

dasar ilmiah awal saya hanya berpatokan bahwa sejak di pendidikan dasar, kita sudah diajarkan tentang cahaya matahari dan bulan.

matahari memancarkan sinar cahayanya sendiri, sedangkan sinar pada bulan merupakan pantulan dari cahaya matahari. kebetulan, umumnya kita pada saat pendidikan dasar itu, tidak terlalu kritis ya menanyakan sumber dan dasar ilmiahnya. :D

namun, teori tentang bulan yang memantulkan cahaya matahari ternyata sudah berlangsung sejak lama. di antaranya oleh filsuf Yunani kuno. Teori itu pun ditentang, bahkan filsuf tersebut dipenjarakan. Sebab, belum ada penelitian empiris yang mampu membuktikannya.

(lihat http://www-history.mcs.st-andrews.ac.uk/Biographies/Anaxagoras.html; pada baris ke-9).



Tafsir Kata pada Ayat tersebut

Secara literal per kata, awal ayat tersebut diterjemahkan "Dia menjadikan bulan 'di dirinya' ada cahaya". sehingga kemudian diterjemahkan "bulan bercahaya".

dalam terjemahan Inggris versi Sahih International, diartikan "and made the moon reflected light and made the sun the burning lamp"


Allah memilih kata "siraj" untuk sifat matahari. Dalam A Dictionary of Modern Written Arabic oleh Hans Wehr, kata tersebut berarti lamp, light.

(lihat https://archive.org/stream/Dict_Wehr.pdf/Wehr#page/n423/mode/2up).

Sedangkan kata "nuur" untuk bulan, berdasarkan kamus yang sama, berarti light, ray of light, brightness, gleam, glow. (lihat kamus di atas pada halaman digital 1026).
Definisi Siraj, dalam Mu'jam Wasith, dituliskan sebagai
"lampu yang terang"

Konklusi

seperti biasa, saya selalu mengingatkan bahwa latar belakang keilmuan saya bukanlah mumpuni dalam penafsiran ini (Fisika dan Quran). sehingga, untuk penafsiran secara empirikal dan grammatikal, bisa didiskusikan lebih lanjut dengan ahlinya.

Saya hanya melakukan penelaahan secara literal, bahwa pemilihan kata dalam ayat tersebut menjelaskan kondisi fenomena alam yang kemudian terbukti absah secara empiris dalam sains modern.

bahkan dipertegas oleh ayat lain, di antaranya dalam Yunus 10:5 (yang artinya): "Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya".


Semoga menambah keimanan kita, bahwa Maha Benar Allah, dengan segala firman-Nya.

wallahu a'lam.

incefurqan.

1 Apr 2016

Panggillah Aku dengan Sebutan yang Baik

Panggillah Aku dengan Sebutan yang Baik


(Reader discretion advised. Ada kata-kata yang tabu dalam tulisan ini)

“Nyet”, “Bi”, “Cuk”, “Njing”.

Entah kenapa sebutan makian, olok, dan umpatan makin populer. Orang seakan terbiasa memanggil dengan kata-kata bermakna negatif, walaupun si pemanggil tidak bermaksud mengolok. Itu sekedar ucapan panggilan. Dan herannya, yang dipanggil pun rela (ridho) saja dipanggil demikian.

Sebagai seorang muslim, saya punya panduan hidup. Dan Al Quran dengan jelas dan gamblang melarang perilaku demikian “dan jangan kamu memanggil dengan sebutan jelek” (Hujurat, 49: 11).


Allah tidak menggunakan kata istihzaa (استهزاء /mengolok). Bahkan di ayat yang sama, sudah dijelaskan tentang larangan mengolok dengan kata yaskharu (يسخر /mengolok, dengan tujuan menertawakan).


Tapi Allah menggunakan tanaabazuu bil alqaab تنابزوا بالألقاب , yang berarti memanggil dengan julukan negatif jelek, walau tanpa niatan mengolok.


Dan ayat ini menjelaskan larangan. Yang berarti, hukum melakukan hal tersebut adalah haram.


***

Jika Anda adalah seorang muslim, saya berharap Anda memiliki keprihatinan yang sama dalam hal ini.


Sebab, Rasulullah (selawat dan salam ke atas beliau) bersabda, yang artinya: “sesungguhnya ada seseorang yang mengucapkan kalimat yang ia anggap biasa, tetapi ternyata karenanya ia terjun ke neraka sejauh tujuh puluh tahun” (HR. Tirmidzi, hasan gharib).


Jika kita peduli dengan teman kita, mari kita selamatkan mereka agar kita semua terhindar dari 70 tahun terjun ke neraka. Mari kita ingatkan teman-teman kita: “panggillah aku dengan panggilan yang baik”.


Agar kita dipertemukan kembali di surga-Nya.
Karena pertemanan yang abadi, hanyalah pertemanan di sana.

12 Feb 2016

Al-Quran dan Puber Kedua

Al-Quran dan Puber Kedua


Mid-Life Crisis

istilah ini dipopulerkan oleh Elliot Jacques pada tahun 1965 dalam International Journal of Psychoanalysis. bila diterjemahkan ke dalam bahasa kita, menjadi krisis paruh baya. tapi, masyarakat kita lebih familiar menyebutnya 'puber kedua'

istilah ini awalnya digunakan untuk menandakan keadaan seseorang ketika mengalami perubahan signifikan dalam fisiknya. Berbeda dengan puber pertama (masa remaja) yang mengalami penambahan kapasitas fisik, usia paruh baya merupakan usia di mana terjadinya penurunan kapasitas fisik. Perubahan yang signifikan ini kemudian menimbulkan gejolak psikologis, sehingga dinamai krisis paruh baya.

fakta ilmiah mengenai midlife crisis ini memang masih banyak menuai perdebatan. hasil studi yang dipublikasikan Washington Post pada tahun 1999, menunjukkan bahwa hanya 25% dari subjek penelitian yang mengalami puber kedua. terlepas dari perbedaan sudut pandang yang terjadi pada kalangan scientist (silakan lihat di sini), gejala midlife crisis memang ada dan terjadi secara nyata pada beberapa orang, walaupun sangat tergantung oleh beragam faktor predisposisi bagi individu yang mengalaminya.

'Gejala' Midlife Crisis

Menurut Dr. Phil McGraw, ahli psikologi klinis APA, Midlife crisis ditandai dengan beberapa gejala, di antaranya:
  • mencari impian atau tujuan yang belum tercapai
  • penyesalan pada tujuan yang tidak tercapai
  • hasrat untuk menjadi muda kembali (di dunia barat, kecenderungan untuk operasi plastik lebih tinggi pada saat usia paruh baya, baik pada wanita, dan bahkan pria!)
  • ingin menghabiskan waktu sendiri, atau dengan peer.
  • rasa khawatir (khawatir akan kematian, sakit, tidak menarik lagi, tidak berguna lagi, dsb.)
  • kecenderungan membeli barang yang mahal dan tidak biasa
  • meningkatnya perhatian pada penampilan (menutupi kebotakan, mencat rambut beruban, atau menggunakan pakaian yang lebih terlihat muda, dsb.)
  • menjalin relationship baru, terutama dengan yang lebih muda (passionate dan intimate relationship)

Al-Quran dan Midlife Crisis


Perlu dicermati, saya bukanlah ahli tafsir. Sebab, terkadang al-Quran memuat statement yang gamblang dan eksplisit, dan tidak memerlukan penafsiran lebih jauh. sehingga apa yang saya lakukan ini sebatas penelaahan terhadap statement yang 'tersurat', bukan penafsiran pada pesan 'tersirat'.



saya menemukan sebuah tulisan menarik yang mengaitkan antara midlife crisis dengan al-Quran. Saya cukup menambahkan sedikit saja pemahaman saya terhadap ayat tersebut untuk menanggapi fenomena midlife crisis.

dalam al-Quran surat Ahqaf (46) ayat 15
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ


artinya: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku; dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku (dengan cara memberi kebaikan) untuk keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".

setidaknya, ada 5 point yang menjadi solusi midlife crisis dalam kandungan doa pada ayat tersebut (jika boleh, saya senang menyebut doa ini sebagai doa terhindar dari midlife crisis).

1. Bersyukur
dibanding merisaukan apa yang belum kita perolehi, kita lebih baik mensyukuri apa yang telah kita dapatkan. rasa syukur ini bisa mengatasi penyesalan yang terjadi ketika midlife crisis.

2. Berbuat kebaikan
berbuat baik memang tidak hanya diperintahkan ketika berusia paruh baya saja. tapi, ayat ini memberikan penekanan terhadap behave ini ketika usia 40 tahun: perbuatan baik ditingkatkan, agar terhindar dari perbuatan buruk yang umum terjadi ketika midlife crisis.

selain itu, perbuatan baik juga menghapus dosa perbuatan buruk, sebagaimana dijelaskan dalam surat Huud ayat 114, dan juga dalam hadist yang artinya "iringilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik, maka kebaikan itu akan menghapus keburukanmu" (HR. Tirmidzi No. 1978). mungkin ya, karena saat puber kedua itu rawan melakukan dosa, sehingga dianjurkan beramal saleh lebih banyak, supaya dosa tersebut terhapus".

3. Memohon kebaikan pada anak-cucu, untuk kebaikan diri sendiri (Care)
Teori Erik Erikson menjelaskan bahwa pada tahap ketujuh, yaitu usia antara 35-55 tahun, individu mengalami fase perkembangan generativitas vs stagnasi/mandeg.  Generativitas adalah perluasan cinta ke masa depan. Sifat ini adalah kepedulian terhadap generasi yang akan datang. Generativitas dapat dicerminkan dengan sikap peduli terhadap orang lain.

Jika individu gagal dalam fase ini, maka akan ditimpa rasa stagnasi (tidak peduli), bosan, dan 'miskin' interpersonal. penggambaran Erikson tentang kesulitan-kesulitan emosional tersebut, mirip dengan deskripsi Carl Jung tentang midlife crisis.

Jadi, dengan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap generasi penerus, dapat menghindarkan individu dari midlife crisis berupa stagnasi.

4. Bertobat
Freud berpendapat bahwa pada usia paruh baya, pikiran manusia dipengaruhi oleh ketakutan terhadap kematian.

Dengan melakukan tobat, individu akan memperbaiki hubungan dengan Tuhannya, dan mulai melakukan perjalanan spiritual menuju Tuhan. jika manusia sudah mempersiapkan dirinya untuk menuju Tuhan, maka dia tidak akan khawatir atau takut terhadap kematian. justru merindui kematian. sebab, kematian adalah satu-satunya pintu untuk dia dapat menuju pertemuan kepada Tuhannya.

5. Berserah Diri
Tobat dengan kesadaran penuh atas kesalahan yang pernah dilakukan, akan membuat individu mampu berserah diri secara sempurna: tampil apa adanya di hadapan Tuhannya, percaya pada ketentuan Tuhan, dan berprasangka baik terhadap takdir yang ditetapkan Tuhan padanya. dalam tulisan terdahulu, saya menggambarkan berserah diri secara sempurna dengan kalimat "Pasrahku abadi untukMu".

Berserah diri secara sempurna, akan menghindarkan individu dari kekhawatiran yang tidak perlu dan berlebihan. termasuk kekhawatiran yang kerap muncul ketika midlife crisis.

***
tulisan ini, terutama yang berkaitan dengan al-Quran, hanya pandangan pribadi saya,  dan mutlak bukan mewakili hukum atau syariah Islam yang sama sekali bukan ranah saya.

saya berusaha sangat hati-hati ketika berbicara dengan dalil al-Quran, karena itu adalah kalam Allah. saya lebih menganggap apa yang saya lakukan adalah penelaahan berdasarkan pendapat (tafsir bi ar-ra'yi). dengan niat semoga bisa menjembatani antara sains dan religion.


Semoga bermanfaat dan mencerahkan...


Ince Furqan

7 Dec 2015

Jangan Merasa Pintar

Jangan Merasa Pintar



Beberapa hari yang lalu (29/10) , web-blog milik The British Psychological Society (BPS) mempublish sebuah review tentang hasil penelitian terbaru. Judulnya unik "feeling like you're an expert can make you closed-minded", atau kira terjemahannya "merasa ahli membuatmu menjadi orang dengan pemikiran tertutup".

Inti dari tulisan tersebut, jika kita "merasa ahli" di suatu bidang atau domain tertentu, maka kita akan menjadi pribadi yang ber-pemikiran tertutup: insecure, irritable, dan negative thinking.

Mungkin ini hikmahnya, bahwa Tuhan mewahyukan:
"dan jika kamu selesai (dari suatu urusan), maka bangkitlah (kerjakan yang lain)" (Al Insyirah 94:8)

Jika memang sudah menguasai suatu area keilmuan, jangan merasa cukup berhenti disitu. Tapi bangkitlah pelajari lagi yang lain, atau perdalam ilmu tersebut dari sisi lain.
Mungkin saja, ini yang menginspirasi Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi hingga ia tidak berhenti menciptakan konsep aljabar, tapi hingga menjadi ahli astronomi dan geografi.
Atau pada Ibnu Haytsam, yang tidak saja ahli di bidang agama, tapi juga mempelajari medis, fisika, matematika, dan geometri.
Atau yang di zaman modern ini, ada Zakir Naik, yang tidak hanya penghapal quran, tapi juga ahli teologi, filsafat, dan juga dokter medis.

Secara implisit Tuhan sudah meminta kita untuk tidak merasa pintar, agar kita tidak closed minded, dan bisa berkembang dan melejitkan potensi yang ada.

Tuhan-lah Yang Maha Memberi Ilmu, Yang Maha Pintar. Kita tidak berhak merasa cukup.
Bisa jadi, itulah hikmah dari ayat selanjutnya, "maka hanya  kepada Tuhanmulah kamu berharap"

Mungkin saja… sebab saya bukan ahli tafsir.
Tapi setidaknya, saya dapat satu insight: baca terus, kembangkan diri terus. Dan jangan pernah merasa sudah cukup pintar!


**
Judul asli penelitian tersebut:
Ottati, V., Price, E., Wilson, C., & Sumaktoyo, N. (2015). When self-perceptions of expertise increase closed-minded cognition: The earned dogmatism effect Journal of Experimental Social Psychology, 61, 131-138


Sent from Mail for Windows 10

17 Jan 2015

Belajar Quran, dengan Sanad hingga Rasulullah

Belajar Quran, dengan Sanad hingga Rasulullah
Menjadi impian sejak hijrah diri bertahun-tahun lalu. 
Hingga kemudian lelah bermimpi, dan letih hingga berhenti mencari.
Serta futur yang selalu membayangi.

Tapi akhirnya Tuhan hadiahkan, dan menjawab semua lelah penantian.

Allah pertemukan dengan seseorang yang memiliki sanad bacaan alquran hingga ke Rasulullah, dan mau mengajari kami.

Sedih, sebab ternyata bacaan kita msih banyak keliru.

Terharu, sebab ini artinya kita dibimbing dgn terhubung hingga ke Rasulullah.

Bahagia, karena Tuhan hadiahkan ini semua di ujung penantian.

"Maka nikmat yang mana kah dari TuhanMu, yang kamu dustakan?"

14 Jan 2015

Dosa itu Buruk, tapi....

Dosa, adalah syarat merasa berdosa.
Dan merasa berdosa adalah syarat menitisnya air mata taubat
 

 ‎Dosa itu memang sesuatu yang buruk. Tp tak ada manusia yg terlepas darinya.

Dosa memang terkutuk, tapi pasti ada hikmah di baliknya. 

Sebab, Dosa adl penggerak seorang hamba utk mendekatkan diri dgn khusyuk kepada Tuhannya.

"Merasa berdosa", adalah syarat menitiknya air mata mengadu kepada Tuhan.

Merasa berdosa adalah bahan bakar kehambaan utk meningkatkan ketaatan.

Dan tidak mungkin kita merasa berdosa, jika dosa itu sendiri tidak pernah ada.

Dosa itu buruk. Tapi merasa berdosa adl hikmah kualitas penghambaan kita.

كل بني آدم. خطاؤون ‏و خير خطائين التوابون 
"Setiap bani adam pasti berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah ‎mereka yang gemar bertaubat" (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)

31 Dec 2014

Menjaga Hidayah

Menjaga Hidayah
"Sesungguhnya orang yang kembali ke belakang, setelah hidayah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah membuat dosa, dan memanjangkan angan-angan mereka" (47:25)

Hikmah:
Orang-orang yang kembali kepada kejahilan, kesesatan, padahal mereka telah mendapatkan dan merasakan petunjuk sebelumnya, jika mereka mengikuti hawa nafsunya maka akan terjerumus lah ia dalam angan-angan, dan menjadi semakin mudah untuk membuat dosa.

Apa tujuan dari fenomena tersebut? Dijelaskan dalam surat yang sama, "dan sungguh Kami akan menguji kamu, sehingga kami mengetahui orang-orang yang benar mujahadah dan bersabar diantara kalian; dan akan kami uji perihal kamu" (47: 31)

Bahwa, Allah ingin menguji siapa diantara manusia, yang bersungguh dan bersabar atas hidayah yang dipegangnya, dan tidak kembali kebelakang mengikuti rayuan syaitan.

Oleh itulah, kita diajarkan do'a, "Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau condong kan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakan kami rahmat dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi" (3:8)

Tuhan, bantulah kami hamba yang lemah ini.
Wallahu a'lam

Dikirim dari ponsel cerdas BlackBerry 10

18 Dec 2014

Hakikat Dakwah

Hakikat Dakwah
"dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang buta hatinya dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan petunjuk Tuhan, melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat kami. mereka itulah orang yang tawakkal". (30:53)


 hikmah dari ayat tersebut:

29 Oct 2014

Ujian Perpisahan (Hikmah Aidil Adha)

Ujian Perpisahan (Hikmah Aidil Adha)
Manusia menginginkan kebersamaan. Kita semua juga menginginkan kelanggengan, stabilitas, dan harmoni.
Pertemuan, dan kebersamaan, memang lbh baik dibanding perpisahan.

Tapi, sejarah membuktikan, bahwa Tuhan pun pernah "memisahkan" Ibrahim dari istri dan anaknya di lembah tandus Makkah, Musa yg masih bayi juga harus terpisah dari ibunya. Juga Yunus dari kaumnya, dan pernah Yusuf dipisahkan dr ayahnya yg sangat mencintainya, yaitu Yaqub, walau hanya sementara waktu. Nuh dgn anaknya, Adam dgn istrinya, Lut juga dgn istrinya.
Dan bahkan Muhammad, harus berpisah dari kampung halaman yang dicintainya.

Perpisahan memang terkesan buruk di mata kita manusia yang bersosial. Tapi ingat, Tuhan telah menjelaskan dalam Quran, bahwa bisa jadi apa yang kita benci dan anggap buruk, ternyata itu adalah suatu kebaikan bagi kita (2:216).

Moment Idul Adha, mengajarkan kita arti ketulusan. Dan segala sesuatu tidak akan terasa berat, jika ada ketulusan di dalam hati-hati kita.

Tanamkan ketulusan, suburkan ketabahan. Salam Raya.

Dikirim dari ponsel cerdas BlackBerry 10 saya dengan jaringan XL.

29 Aug 2014

Kejahatan Kemanusiaan



Sekira tahun 2004, saya aktif di sebuah Yayasan yang bergerak di kemanusiaan sosial. Otomatis pembicaraan keseharian kita biasanya tidak jauh seputaran filantropi dan humanity. Hingga pun kita membahas seputar kejahatan kemanusiaan.

Tidak ada keraguan, bahwa banyak sekali kasus-kasus kejahatan kemanusiaan yang kita lihat di berita TV atau media lainnya. Namun, sering kita tidak sadari, ada satu hal kejahatan yang terlewat dari pemikiran kita sebagai "homo religius" atau manusia yang berketuhanan: kejahatan berupa menjerumuskan dan menjauhkan manusia jauh dari petunjuk agamanya.

Kejahatan ini, secara nyata akan memiliki efek yang sangat berkepanjangan, yaitu efek dunia dan akhirat. Seseorang yang jauh dari agama, hidupnya di dunia tidak akan berkah, dan di akhirat pun dia akan merana. Dan kehidupan akhirat itu abadi berlaku selama-lamanya.

Kepedulian terhadap kejahatan ini, seharusnya memang membawa kita kepada satu muara: mengajak orang lain kepada kebaikan. Kepedulian ini, ternyata tidak hanya kewajiban kita sebagai "homo religius" tadi, melainkan juga sebagai "homo socius", yaitu manusia yang bersosial, zoon politicon, yang saling memerlukan satu dengan lainnya. Ya, kita saling memerlukan orang lain dalam rangka saling menasihati dan saling mengingatkan.

Dijelaskan dalam sebuah ayat al-Quran (3:110), "Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan utk kalangan manusia, (yaitu yang) mengajak kepada kebaikan, mencegah daripada kemungkaran, dan beriman kepada Allah"

Jadi, mulailah kita peduli terhadap nasib kemanusiaan di sekitar kita. Memberi hidayah memang bukan tugas kita, itu adalah hak Allah semata. Tapi, tidak perlu ragu dan malu untuk selalu mengajak kepada kebaikan. Sebab, jika kita mengacuhkan hal ini, khawatirnya, kita justru terjebak tanpa sadar dalam sebuah kejahatan kemanusiaan.


10 Jul 2014

Balasan KaltimPost Mengenai "Keliru Pemberitaan Kaltim Post Soal Al-Aqsa"


Sekitar bulan Mei lalu, saya mengirimkan surel kepada team redaksi Kaltim Post mengenai "Keliru Pemberitaan Kaltim Post Soal Al-Aqsa" (lengkapnya bisa dilihat di sini)

dan teryata, sudah lama ada balasannya, namun surel balasan tersebut masuk dalam folder spam. sebagai bahan pencerahan (karena isinya sangat bagus), saya posting balasan penulis berita tersebut yang mewakili redaksi Kaltim Post (agar tidak salah paham, sebaiknya anda baca dulu surat saran saya kepada KP)

***
Terima kasih masukannya. Saya sama sekali tak bermaksud "menyesatkan" umat Islam. Masjid Aqsa memang berada di bawah, kami sempat diajak ziarah ke maqam Nabi Ibrahim AS, istri Nabi Ibrahim Sarah, salat di bawah batu bergantung yang menyatu dengan Masjid Aqsa. Salat Jumat pun khatib dan jamaah berada di bangunan atas, namun sebagian umat Islam juga dapat salat Jumat berjamaah di masjid Aqsa di bagian bawah. Masjid Aqsa tak dibuka 24 jam, hanya pada waktu-waktu tertentu dibuka. Kubah kuning itu memang Dome of Rock (DOR) atau Kubah Sakhra. Jadi saya keliru membuat teks foto ketika jamaah berfoto dengan latar belakang kubah kuning yang disebut Aqsa, padahal sebenarnya DOR. Jadi, lewat email ini saya sebagai penulis catatan laporan perjalanan ke Palestina, mohon dimaafkan atas kekeliruan pembuatan teks foto yang terbit tanggal 19 Mei 2014.

RA, Penulis

(nama sengaja saya samarkan - Furqan)


16 Jun 2014

Adaptasi, Evolusi, dan Hakikat Penciptaan Tuhan

Adaptasi, Evolusi, dan Hakikat Penciptaan Tuhan
Saya memikirkan perihal ini sebenarnya sudah lama. Seingat saya, sewaktu SMU tahun 2004, di pelataran masjid sekolah, kita berdiskusi tentang apa yang baru saja kita pelajari saat itu: adaptasi. Dan pembahasan ini mulai terngiang lagi, setelah saya menonton Nat Geo Wild yang menjelaskan tentang diversitas hewan-hewan aneh di Borneo. 

Adaptasi adalah cara organisme menyesuaikan diri dengan lingkungan (autoplastis), yang bertujuan agar organisme tersebut survive/bertahan hidup (Dobzhansky on “On Some Fundamental Concepts of Evolutionary Biology”, 1968). Adaptasi tersebut kemudian terjadi terus menerus, sehingga menjadi sebuah proses evolusi. Dan secara perlahan, jadilah organisme tersebut seperti yang kita lihat dan ketahui sekarang.

Berikut jenis adaptasi dan contohnya (sebagaimana yang termaktub dalam Kurikulum Pelajaran IPA):

21 May 2014

Keliru Pemberitaan Kaltim Post soal Aqsa

Salam,

Membaca Kaltim Post tanggal 19 Mei 2014, halaman 25, di pojok kanan bawah tentang liputan perjalanan ke Palestine, memberikan saya wawasan informatif. Namun juga menghiris hati saya. karena  ternyata di kolom itu, ada pemberitaan yang berpotensi menyesatkan.

dalam kolom tersebut, nampak Masjid Kubah Kuning (Dome of The Rock / قبة الصخرة ) yang disebut sebagai Aqsa.
hal ini keliru besar. dan hal ini sudah saya tweet dengan menyematkan mention terhadap @RedaksiKP. namun hingga 24 jam tweet dikirim, belum ada respon klarifikasi dari admin @redaksiKP.

maka saya mencoba melanjutkan perjuangan meluruskan pemahaman ummat dari pemberitaan "korban-korban" konspirasi melalui email ini. saya katakan bahwa KP hanya merupakan salah satu dari jutaan ummat muslim yang menjadi korban konspirasi mengenai distorsi pencitraan Aqsa.

 
dari gambar tersebut, nampak posisi Aqsa dan Dome of The Rock (DOR). gambar tersebut saya perolah dari NGO "AmanPalestin" yang berpusat di Malaysia, dalam kunjungannya ke Jakarta pada tahun 2004 dalam rangka meluruskan pemahaman ummat islam mengenai "the Real Aqsa".  DOR dibangun pada masa Umayyah, yang artinya tidak mungkin itu merupakan Aqsa. sebab Rasulullah pernah melakukan mi'raj dari Aqsa. sedangkan DOR dibangun jauh setelah Rasulullah Wafat.

28 Jan 2014

Logika Ketuhanan

Logika Ketuhanan
Umumnya, jika kita takut kepada sesuatu, kita akan menjauhi hal tersebut. Tapi, logika tersebut tidak berlaku untuk Tuhan.

Semakin kita takut kepadaNya, justru semakin kita lari mendekatiNya.

Inilah salah satu dari tanda-tanda keagunganNya.

Maka renungilah diri kita. Jika kita mulai tidak takut akan laranganNya, itu pertanda kita mulai terseret menjauh dariNya.





Powered by Telkomsel BlackBerry®

23 Jan 2014

Kemarahan

Kemarahan
Tulisan berikut sangat unik. Saya bisa mengelompokkan ke dalam tag Artikel Islam, dan juga Artikel Psikologi.
I took this from my beloved Brother Ahmad Jibril.

Point yang penting adalah, bahwa ketika anda marah, anda akan terlihat sosok aslinya.
----

Al Fudlail bin Iyyadl rahimahullaah berkata :

"Jika kamu ingin berteman dengan seseorang maka buatlah agar ia marah maka jika kamu lihat keadaannya sesuai dengan syari'at maka bertemanlah dengannya."

Situasi saat ini sangat mengerikan sebab jika kamu membuatnya marah maka ia akan menjadi musuhmu saat itu juga. Adapun penyebab hilangnya persahabatan yang murni adalah kecintaan terhadap dunia yang menguasai hati. Sedangkan Salafus Shalih, perhatian mereka senantiasa hanya tertuju kepada akhirat maka mereka pun memurnikan niat dalam mencari saudara dan mereka bergaul dengan sesamanya karena agama bukan karena dunia. Maka jika kamu lihat berkaitan dengan masalah agama maka ujilah ketika ia marah.

(Adabus Syari'ah 3/581)





3 Jan 2014

HaikuPoem: Satu Senyuman, Beribu Makna

HaikuPoem: Satu Senyuman, Beribu Makna
Jika bertemu dgn orang yg kamu cintai, tersenyumlah agar ia merasakan cintamu.

Jika bertemu musuhmu, tersenyumlah agar ia merasakan kekuatanmu.

Jika bertemu orang yg meninggalkanmu, tersenyumlah agar ia merasakan penyesalan.

Jika bertemu orang yg tidak kamu kenal, tersenyumlah, maka kamu mendapatkan pahala ibadah.

---

إذا رأيت من تحب فأبتسم سيشعر بحبك، وإذا رأيت عدوك أبتسم سيشعر بقوتك، وإذا رأيت من تركك أبتسم سيشعر بالندم، وإذا رأيت من لا تعرفه أبتسم وستأخذ أجرك .. قليل من يفهمها



Powered by Telkomsel BlackBerry®

29 Oct 2013

Jangan Tunggu Musibah!

Jangan Tunggu Musibah!
Seorang mandor bangunan yang berada di lantai 5 ingin memanggil pekerjanya yang sedang bekerja di lantai dasar.

Sang mandor pun menjatuhkan uang Rp. 1.000 yg jatuh tepat disebelah si pekerja.
Si pekerja hanya memungut Rp 1.000 tsb, tersenyum & melanjutkan pekerjaannya.

Sang mandor mengulanginya lagi dengan melemparkan Rp 100rb & berharap si pekerja mau menengadah "sebentar saja" ke atas.
Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan uang 100rb & kembali asyik bekerja.

Hingga akhirnya sang mandor melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas & dapat berkomunikasi dengan sang mandor...

----

Mari introspeksi diri...
Sering kita dapatkan rezeki dan nikmat dari Allah, tapi kita kerap tidak menoleh kepadaNya. Malah kita lebih mudah mengatakan bahwa itu keberuntungan...

Jangan sampai kita mendapatkan lemparan "batu kecil" yang biasa kita sebut dengan musibah dari Allah, supaya kita mau menoleh kepadaNya.

Jangan tunggu musibah datang, baru kita mau mengadu padaNya.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

1 Apr 2013

Manusia dan User Guide (1)

Manusia dan User Guide (1)

Saya yakin bahwa manusia diciptakan dengan sebuah design yang tertentu. Ibaratnya sebuah komputer, manusia diciptakan dengan hardware dan software tertentu, yang bisa diupgrade, dan bisa didowngrade, tergantung dari individu itu sendiri. Jika dia rajin berusaha untuk mengembangkan potensi yang ada, maka 'komputer' canggih ini akan menjadi unggul dibanding yang lainnya. Tetapi jika hanya digunakan untuk hal-hal yg tidak produktif: game, lagu, film, dsb, walaupun specnya tinggi, orang tetap melihatya denan sebelah mata, karwena tidak ada produktivitasnya.

Lalu, sebuah produk yang diciptakan, tentu memiliki aturan-aturan penggunaan, yang biasanya ditentukan okeh pencipta produk tersebut. Begitu pun manusia. Saya memandang bahwa manusia juga memiliki aturan-aturan yang ditentukan oleh Pencipta kita, sehingga manusia itu betul-betul layak dikatakan manusia, karena sesuai dengan grand design-nya. Hal itu lebih sering kita sebut dengan fitrah manusiawi.

Ketika manusia melanggar aturan-aturan tersebut, maka dia akan dikatakan 'tidak manusiawi', atau 'melanggar fitrah'. Karena telah melenceng dari design-nya sebagai manusia.

Lalu, bagaimana caranya kita tahu aturan-aturan fitrah manusiawi tersebut? Tentu melalui user guide yang ada. Dan sebagai seorang muslim, saya meyakini bahwa Al-Quran adalah user guide bagi manusia.

Sebab Al-Quran tidaklah diturunkan kecuali karena adanya penciptaan manusia dan jin, sebagai petunjuk bagi kedua bangsa tersebut, agar mereka tidak menyalahi fitrahnya.

Al-Quran adalah user guide bagi seorang muslim. Ikutilah user guide tersebut, agar kita sesuai dengan tujuan penciptaan kita. Ikuti iser guide tersebut, agar kita jadi manusia seutuhnya, agar kita bisa memanusiakan manusia.