20 Oct 2023

The possibilities of automation are at your hand



Coba pikir deh, ada banyak rutinits dalam pekerjaan atau bahkan kehidupan yang bisa diback up oleh automasi.

Cukup dgn event sebagai trigger, dan selanjutnya step automation ambil alih.

Contoh simple yang saya terapkan di kehidupan,

Trigger: matikan alarm pagi.

Action: nyalakan lampu, buka gorden, matikan AC.

Trigger: "hi siri, good night"

Action: night lamp is on, alarm is set, door alarm is active, AC sleep mode. 

Kalau dalam pekerjaan, wah banyak sekali possibilities-nya karena kita seringkali terjebak dalam rutinitas administratif. 

Example,

Trigger: di database pelamar, saya jadwalkan interview dgn hanya menginput tanggal interview.

Automation: generate link interview, serta merging data lain dari database yang sudah ada, lalu mengirimkan email undangan ke kandidat. 

Atau contoh lain yang udah banyak banget pakai,

Trigger: peserta training isi post-test.

Automation: generate sertifikat of attendance nya dan kirim langsung ke email trainee.

Atau ada lagi yang lebih simple lagi,

Trigger: H-30 end of Contract karyawan

Automation: Generate kontrak yang baru, kirim email ke HR or atasan untuk review.

---

Mereka yang resistance to change bakal bilang "alah itu kan pekerjaan simple, ngetik itu paling 5 menit jadi"

Jawabannya, "justru karena simple kenapa ga diserahkan ke automasi aja? 5 menit kalau 30 processes per day, kita udah nyumbang 1/3 FTE workload"

---

Si resistance: "Tapi bikinnya kan butuh waktu?"

Me: "pay now play later, or play now pay later?"

---

Pointnya, saya cuma pengen build awareness ke orang-orang, kalau kita bisa kok bekerja dgn cara baru (yang gak baru-baru amat juga, FYI saya main beginian since 2017).

Premisnya sudah jelas: "segala sesuatu yang rutin dan berulang bisa di-automasi."

Come on, ini 2023 di luar sana udah bertaburan AI, Dan kita masih alergi dengan automasi?

Dan percaya deh, kita akan sulit berpikir yang besar, kalau kita masih terpenjara oleh hal-hal kecil.


13 Oct 2023

Time Flies: No Code Development Platform

Time Flies: No Code Development Platform

Pertengahan 2016, saya dan temen-temen lagi bantuin prodi psikologi untuk proses borang akreditasinya saat itu. Buat temen-temen yang pernah terlibat proses akreditasi, pasti tahu banyak banget dokumen yang harus disiapkan dalam rangka borang tersebut. 

Dan diantara dokumen yang dibutuhkan sebagai lampiran, banyak sekali dokumen yang kita lihat punya pola, dan hanya berbeda di detail isiannya saja. Let's say seperti surat keterangan aktif kuliah, itu kan isinya sama saja, tinggal ganti detail profil mahasiswanya saja. 

Jawabannya udah pasti: merging files. 

Tapi ternyata kebutuhan kita lebih dari itu, karena source data harus crowd source, inputan data harus secara online.

--- disinilah cerita bermula ---

Pertengahan tahun 2016, saya dan temen-temen lagi bantuin prodi psikologi untuk proses akreditasinya. Buat temen-temen yang pernah terlibat proses borang akreditasi, pasti tahu banyak banget dokumen yang harus disiapkan untuk proses tersebut. 

Untuk menyiasati itu, saya buat google script supaya dokumen sheet dan doc bisa merging secara online. Sangat useful (di zamannya) walaupun ngebuatnya lumayan rumit buat saya yang ga punya basic coding (see picture 1). Dibantuin @Wahyu Prayogo dan @Maulid Sidiq untuk check error di codenya. 

Dan hanya dalam 2 tahun kemudian, di 2018, script tersebut tidak lagi saya gunakan karena ada metode baru yang lebih mudah dan lebih reliable: pakai add-on. Kalau yang ini korban trialnya adalah @Dwi Putra.

Ternyata, ga berhenti disitu. Start tahun 2020an, adaptasi lagi dengan perkembangan baru, add-on tersebut mulai tergeser dengan adanya low code development platform (LCDP). Kata McKinsey Global Survey sih memang pandemi saat itu bikin digitalisasi berkembang 2-3 tahun lebih cepat. Saya mulai pakai Power Apps-nya Microsoft.  

Long story short, lihat timelinenya untuk insight dari cerita ini. 4 tahun aja. 

Anggap kalau seandainya gw mahasiswa, dan ketika di semester 1 belajar google script, berarti pas lulus (kalau lulusnya 4 tahun ye…) apa yang dipelajari di semester 1 itu udah obsolete dan ga mulai gak laku. 

Tapi inget ya, gw ini cuma basic user. It doesn’t mean apa yang gw sebutin itu sekarang sama sekali useless. Mungkin aja masih berguna untuk orang-orang yang yang berada di bidang spesifik lainnya. Hanya saja, buat gw yang mengutilisasi tools tersebut dalam daily basis pekerjaan as HR, shifting-nya digitalisasi ini berasa cepat banget. 

Oh ya, ini udah 2023.

Dan untuk kebutuhan saya yang sama, LCDP udah mulai terganti dengan NCDP (no code development platform). Well, harus adaptasi lagi. 


7 Jul 2016

Membuat Jadwal Online

Membuat Jadwal Online
Yes, We're Embedding Another Feature





Saya sedang mencoba menanamkan fitur baru pada website psikologi unmul, yaitu berupa jadwal kuliah yang bersifat online.

see the prototype here http://psikologi.fisip-unmul.ac.id/main/jadwal/index.html
(hanya bisa di akses browser tertentu, see 'Cons')

Pros:
+ bisa memuat jadwal berdasarkan filter semester. jadi, mahasiswa semester tertentu bisa menampilkan jadwal yang sesuai saja.
+ untuk dosen, bisa menampilkan berdasarkan filter nama dosen. jadi dosen bisa menampilkan jadwal ngajar pribadinya selama satu pekan.
+ utk akademik/TU perlengkapan, bisa menampilkan berdasarkan filter ruang kelas. sehingga bisa menghindari schedule conflict.
+ perubahan jadwal, akan bisa di update any time.
+ jadwal bisa langsung di print, atau print to pdf (depend on your device's drivers setting/support)

Cons:
- hanya bisa di akses di browser yang ada flash player plugin (ex. browser di pc/laptop).
untuk mobile, flash plugin sejauh yang saya tahu (saat ini) hanya bisa untuk android dgn OS 4.1 ke atas.

Hope this can be enjoyed as our new convenience.

***
tulisan ini saya buat untuk dipost di official page psikologi unmul.

25 Jun 2016

Membuat Template Surat Online

Salam.

Saya sudah lama memikirkan kemungkinan pembuatan surat online. yang dimaksud surat online disini adalah: kita isi data-data tertentu di formulir online, kemudian secara otomatis sebuah template surat akan terisi dengan data-data kita tersebut.

saya berpikir, google form pasti bisa melakukan ini. dan, benar saja, kita bisa menginstall plug-in untuk menjalankan fungsi tersebut. sayangnya, plug-in itu hanya free untuk 100 formulir setiap bulannya. saya khawatir itu tidak cukup, karena rencana saya membuat sistem surat online ini untuk dimasukkan dalam sistem di prodi kampus, yang kebutuhan akan surat menyuratnya pasti tinggi.

so, saya berpikir lagi, kalau plugin itu ada, maka pasti kita bisa membuat scriptnya. akhirnya, dengan kemampuan terbatas, saya bisa comot script dari sana sini.

dan berikut contoh hasilnya.

***

cara membuatnya:

1. buatlah template surat di google docs.
surat tersebut memuat key-key tertentu, yang akan digantikan otomatis melalui pengisian google form.



2. kemudian, buatlah sebuah google form, dengan form isian sesuai yang kita butuhkan. (lihat contoh di link atas)

3. buat response google sheet dari form tersebut.

4. buka response (google sheet), dan buka TOOLS > SCRIPT EDITOR



5. masukkan script dgn contoh di bawah ini.

1
 2
 3
 4
 5
 6
 7
 8
 9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
// adaptasi dari tjhouston, by incefurqan@gmail.com

// Get template from Google Docs and name it
var docTemplate = "IDTEMPLATEGOOGLEDOC"; // *** isi dengan ID template surat ***
var docName = "SuratOnline"; // *** isi dengan nama file yang diinginkan surat ketika dikirim email ***

// perintah trigger submit form
function onFormSubmit(e) {

//isian dari form yang ingin dimasukkan
var email_address = e.values[1]; // *** [1] adl posisi urutan isian form ***
var nama = e.values[2];
var nomorim = e.values[3];
var tujuan = e.values[4];
var alamat_tujuan = e.values[5];
var tanggal_surat = e.values[6];

// Get document template, copy it as a new temp doc, and save the Doc’s id
var copyId = DriveApp.getFileById(docTemplate)
.makeCopy(docName+' for '+nama)
.getId();
  
// Perintah untuk membuka temporary document
var copyDoc = DocumentApp.openById(copyId);

// Get the document’s body section
var copyBody = copyDoc.getActiveSection();

// Key di google doc yang ingin diganti dengan variabel form
copyBody.replaceText('keyNama', nama);
copyBody.replaceText('keyNim', nomorim);
copyBody.replaceText('keyTujuan', tujuan);
copyBody.replaceText('keyAlamatTujuan', alamat_tujuan);
copyBody.replaceText('keyTanggal', tanggal_surat);

// Save and close the temporary document
copyDoc.saveAndClose();

// Convert temporary document ke PDF
var pdf = DriveApp.getFileById(copyId).getAs("application/pdf");

// Attach PDF and send the email
var subject = "Surat Online"; // judul subjek email
var body = "Berikut Permintaan Surat atas nama " + nama + ""; // isi body email
MailApp.sendEmail(email_address, subject, body, {htmlBody: body, attachments: pdf});

// Delete temp file, biar tidak penuh di drive kita
DriveApp.getFileById(copyId).setTrashed(true);
}

PERHATIKAN:

- ID Template Google Doc adalah id di google form. jika anda membuka google docs, maka ada ID Docs tersebut di adress bar diatas.


- e.values[1] adalah isian pertama dari form anda, dst. lihat gambar di bawah.


- setelah code tersebut diubah seperlunya sesuai kebutuhan, maka klik RESOURCES > ALL YOUR TRIGGERS. disini kita akan mengaktifkan trigger dari script code ini. pilih jalur trigger seperti gambar di bawah.


- lalu klik notification, dan setting seperti gambar di bawah, lalu klik ok.



- selama pengaturan resources, akan muncul pop-up bahwa gdrive meminta izin otoritas, dan itu penting untuk dilakukan. jadi, izinkan script ini utk mengakses gdrive anda.

Selamat mencoba ya. jika masih ada yang dibingungkan, silakan contact me via email.

Good luck.








1 Jun 2015

Upgrade Gratis Windows 8.1 ke Windows 10?

Sejak balik dari Nunukan hari Jum'at lalu, baru hari ini bisa mood duduk di work desk. sedangkan beberapa hari sebelumnya, mengakses informasi dan email hanya melalui gadget saja. ada sesekali membuka laptop, itu pun di atas kasur, saking malasnya bergerak. maklum, perjalanan ke/dari Nunukan itu memakan waktu sekitar 12 jam (PP sekitar 24 jam total).

So, ketika sudah duduk manis di work desk, dan mulai mengolah data, ada sesuatu yang menarik di taskbar: ada logo windows.
pas saya hover mouse ke sana, ada tulisan "Get Windows 10"!



ternyata, informasi yang saya dapat dari Brother Hafizdzaki (team IT DKV specialist di UPT) itu benar, bahwa kita pengguna Win 8 akan dapat upgrade gratis ke Win 10.

saya lanjut searching ke forum winpoin untuk informasi lebih jauh, dan teryata ada kabar baik dan kabar buruk.

kabar baiknya, win 7 juga dapat privilege untuk upgrade ke Win 10. yang berarti laptop Dell saya juga bisa "nyicip" Win 10.

sedangkan kabar buruknya, upgrade itu free hanya untuk setahun...

ya setidaknya, ada kesempatan untuk mencoba selama setahun itu juga bagus. syukur-syukur kalau nanti windows memberikannya secara free tanpa batas waktu, seperti upgrading Win 8 ke 8.1 :p

tapi, berhubung masih ada pekerjaan yang menumpuk untuk data kawasan perbatasan, saya urungkan dulu upgradenya. khawatir pekerjaan nanti terganggu oleh proses upgrading yang berlangsung.

kita lihat saja nanti, apa yang ditawarkan oleh Win 10?

9 Apr 2015

Mengatasi IP Address yang Dianggap Spam

banyak hal yang bisa menjadi kemungkinan IP kita di block dan dianggap spam. tapi yang saya alami adalah disebabkan oleh setting email client. jelasnya dapat dilihat di sini

untuk mengatasinya, cukup simpel.

1. Check Alamat IP kita di ip.co.id

2. akses SPAMHAUS.ORG, lalu klik BLOCKLIST REMOVAL CENTER




3. masukkan IP Address kita tadi kedalam kolom yang tersedia, lalu klik lookup


4.  kemudian, akan ada tiga status yang muncul, yaitu SBL, PBL, dan XBL. jika hanya disebabkan oleh email, biasanya hanya kena PBL saja. tapi kalau pernah terlibat dengan malware, maka kena juga XBL.
kebetulan di proses contoh ini, kena di XBL dan PBL.




kita mulai dari penyelesaian XBL dulu

5.klik link yang tersedia disamping keterangan CBL, masukkan captcha, kemudian klik LOOKUP.


6. setelah di lookup, maka akan muncul sejuta alasan kenapa IP address kita di block. scroll saja terus kebawah, hingga ketemu tulisan link berwarna biru.


7. SELESAI.

8. kita perlu menunggu sampai XBL/CBL kta sudah masuk whitelist. cek secara berkala seperti langkah 1-4.
atau refresh saja halaman status spamhaus nya.

9. jika status XBL sudah berwarna hijau, maka kita bisa melangkah ke pemutihan ip address dari PBL.


Pemulihan IP addres untuk PBL

10. klik link PBLxxxxxxxxx, maka kita akan dibawa ke halaman baru.



11.



11. di halaman baru tersebut, cari tombol seperti digambar, lalu klik tombol tersebut


12. setelah muncul halaman baru, silahkan dibaca jika mau (informasinya bagus kok), atau kalau lagi enggan baca, langsung scroll aja kebawah. lalu centang kotaknya, dan klik tombolnya.

13. isi formulir dengan informasi yang akurat. PENTING: masukkan alamat email pribadi anda di kolom email.


14. setelah form di submit, maka kita dialihkan ke lembaran verifikasi. masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan ke email pribadi kita (alamat email yang kita masukkan di form submit tadi). lalu lakukan klik tombolnya.

15.  silahkan tunggu beberapa saat. nanti IP anda akan pulih semula :)


Semoga Bermanfaat,
Regards

8 Apr 2015

Gagal Kirim Email karena Dianggap Spam

Gagal Kirim Email karena Dianggap Spam


Gagal mengirim email? IP Address dianggap spam? Kok bisa? Padahal saya ga pernah kirim-kirim email yang masuk kategori spam. Gara-gara dianggap spam, saya ga bisa sending email. Outgoing server saya diblokir oleh spamcop. Gaswat.

 
Penyebab
Ternyata, biang keladinya bermula dari default setting email pribadi saya di email@incefurqan.net. Jadi, saya lebih senang menggunakan email client Mozilla Thunderbird (sejenis outlook lah) untuk komunikasi email saya. sebab, saya memiliki beberapa alamat email yang harus difollow up setiap harinya. So, sangat repot jika harus menggunakan webmail (seperti gmail.com utk akses gmail, atau yahoomail.com utk akses email dari yahoo). Dengan thunderbird, melalui satu aplikasi saya bisa membuka seluruh email yang saya pegang.

 
Terlebih lagi, webmail email pribadi saya menggunakan squirrelmail atau roundcube yang relative lebih lambat dibanding webmail sebesar google atau yahoo. Akhirnya saya menambahkan akun email@incefurqan.net kedalam thunderbird, juga bahkan ke Z10 dan juga zenfone saya. sejauh ini, ga ada masalah.

 
Tapi kemudian, beberapa hari kemudian, saya mendapati saya ga bisa mengirimkan email dari thunderbird. Dan itu hanya terjadi pada email domain pribadi saja (email@incefurqan.net dan pic.himapsi@himapsiunmul.org). sedangkan email Gmail dan Yahoo masih aman-aman saja.

Segera saya browsing tentang kemungkinan penyebabnya. Tanpa perlu waktu lama, tersangkanya sudah ketemu. 

Jadi, dalam email dari webhosting tempat saya memesan domain, menggunakan pengaturan default seperti ini

SMTP Port: 2525
SSL : None
Authentication: Normal

Jujur saja, saya tidak mengerti lebih detail tentang maksud dari konfigurasi tersebut. tapi yang jelas, ternyata settingan port 2525 atau 25 dianggap tidak aman. Sehingga spamcop dan spamhaus menganggap IP saya sebagai mailserver spam. 


IP Siapa yang Terblok?
Ip yang diblok bukanlah IP dalam local network kita. Melainkan IP yang diberikan oleh internet service provider kita untuk berselancar di dunia maya. Kalau kita menggunakan modem, maka IP-nya diberikan oleh provider simcard yang kita gunakan dalam modem tersebut.

 
Solusi?
Ternyata solusinya tidak seribet memahami masalahnya. Hehe.
Supaya lebih jelas, saya akan tuliskan di posting terpisah, di SINI

 
Semoga Bermanfaat,
Best Regards

7 Apr 2015

Pemanfaatan Teknologi Informasi


beberapa hari belakangan ini, disebabkan oleh tekanan dari bermacam kegiatan yang mulai hectic, memicu saya untuk mencari solusi terbaik dalam menjalani kegiatan atau pekerjaan saya tersebut. dan sepertinya, setiap manusia selalu seperti itu ya. jurus pamungkas dan solusi terbaik, akan lahir ketika kondisi kita benar-benar sudah nyaris overload. 

Kondisi hectic yang selama ini terjadi, ternyata bisa kita minimalisir dengan pemanfaatan sistem informasi. Sebenarnya, saya bukanlah orang yang tepat untuk mengulas dan membahas soal pemanfaatan sistem teknologi informasi. tapi, sebagai end-user, saya hanya ingin berbagi, bahwa teknologi itu tidak hanya mudah (bahkan bagi saya yang awam), tapi juga memudahkan kita.

tulisan ini saya buat hanyalah berupa opening mengenai gambaran apa-apa saja teknologi informasi yang saya lakukan. sedangkan untuk panduan teknisnya, insya Allah akan saya pisah dalam tulisan masing-masing secara terpisah.

so, apa saja sistem TI yang recently saya gunakan untuk mempermudah saya?



Pendaftaran Kegiatan Secara Online 
mudah follow up, mudah prosesnya...


pengalaman saya, sangat sulit mengandalkan pendaftaran manual, terutama kegiatan yang melibatkan banyak peserta. pendaftaran offline akan menyulitkan kita untuk memfollow-upnya. artinya, setiap hari kita harus mendatangi lagi kelas (di kampus) untuk mengumpulkan data terbaru. setelah data sudah di tangan, kita harus menginputnya lagi di komputer kita. 

proses input juga tidak mudah. dulu, saya sering kali bermasalah dengan input data, hanya karena tulisan pendaftar tidak bisa terbaca dengan baik. ujungnya, nanti ada complaint "saya tidak menerima informasi via sms atau email", padahal itu disebabkan karena tulisan tangannya tidak bisa terbaca (alias jelek, haha).

dengan menggunakan pendaftaran online, saya bisa memastikan bahwa kesalahan data bukan menjadi responsibility saya. melainkan tanggung jawab pada pendaftar sendiri, karena merekalah yang menginput data mereka sendiri. saya hanya tinggal memproses data yang sudah ada.

selain itu, untuk follow up, saya tidak perlu untuk mendatangi tempat-tempat pendaftar. hanya tinggal klik, bahkan lewat perangkat mobile pun, saya bisa melihat siapa-siapa saya yang sudah mendaftar kegiatan, siapa yang sudah melengkapi syarat pendaftaran, dan sebagainya. 

mereka yang mensosialisasikan kegiatan pun hanya cukup memberikan link form pendaftaran, tanpa perlu membagi-bagikan formulir, yang toh formulir yang sudah dicetak itu tidak semuanya mereka isi kan? pasti ada yang terbuang. go green bung! 

pendaftaran online hanyalah menggunakan google form yang gratis. contoh yang saya buat untuk Psychology in Action, bisa dilihat di sini

sedangkan untuk uploader file yang diperlukan, saya memodifikasi sebuah script, yang tersedia di forum developer google script. lagi-lagi gratis. contohnya bisa dilihat di sini. 

seluruh kelengkapan yang diupload, akan muncul dalam drive kita, dan bahkan secara otomatis dibuatkan ringkasan.

pemanfaatan IT Psikologi
contoh tampilan ringkasan uploaded file

So, dengan system online tersebut, saya bisa saja menyebarkan informasi kegiatan seluas-luasnya. toh, jika ada pendaftar yang ingin mendaftar, dia bisa daftar langsung via online, tanpa perlu datang ke sekretariat kepanitaan. selain memudahkan saya sebagai operator kegiatan, dan juga memudahkan bagi peserta kegiatan.

***

CLOUD SYSTEM
bekerja bersama dari tempat berbeda


sebenarnya, sistem komputasi awan ini sudah lama banget. dan sudah lama juga saya gunakan. tapi, dulu saya gunakan hanya sebatas untuk multi-akses terhadap file-file penting saya. jadi, kalau saya jadwal keluar kota, saya bisa akses file-file dari PC di rumah melalui laptop atau bahkan handphone saya. 

tapi, pemanfaatan maksimal dari komputasi awan ini baru saya rasakan baru-baru saja, dengan menggunakan multi-author (ini istilah saya, saya ga tahu istilah yang resminya di TI apa, hehe).

mengenai gambaran kinerjanya, saya kasih contoh ketika saya mengerjakan buku tentang kawasan perbatasan. buku tersebut memerlukan data yang sangat banyak. Setelah saya pulang mengambil data di perbatasan, saya langsung menginput di laptop saya. setelah data saya input, saya kirimkan melalui email ke pimpro kita yang saat itu sedang berada di Malaysia. 

dengan cara konvensional tersebut, saya harus mengirim email. kemudian data yang direvisi oleh pimpro, dikirm balik. kemudian saya design dan perbaikan minor, saya kirim lagi. setelah itu, ketika ada perbaruan data, maka harus kirim email lagi. aduh, sangat tidak efisien. selain itu, saya akhirnya sering bingung karena terlalu banyak data dengan nama yang sama di email saya.

akhirnya, saya gunakan system multi-author tersebut. jadi, saya membuat file, kemudian saya simpan di cloud system. kemudian saya memberikan akses untuk mengedit file tersebut kepada pimpro saya (berupa invitasi via email, atau url link). maka dia pun bisa membuka file tersebut dimana saja, dan langsung mengeditnya. hasil editan dari pimpro, langsung ada di komputer saya, tanpa perlu proses emailing. 

dan juga, setiap saya update file saya, maka pimpro bisa melihatnya dari perangkatnya, tanpa perlu saya email lagi.

saya menggunakan bermacam fasilitas sharing ini, diantaranya yang paling umum saya gunakan adalah microsoft office one drive. tapi one drive ini hanya bisa dilakukan hanya ke client yang sama-sama memiliki akun microsoft. 

alternatifnya, saya gunakan juga google drive. syaratnya hanyalah akun gmail. dan di zaman booming android, siapa sih yang ga punya gmail?

so, saya manfaatkan box, dropbox, gdrive, one drive, dan juga sugar sync untuk penunjang pekerjaan saya. dengan adanya fasilitas tersebut, kami jadi bekerja "satu kantor" walaupun saling berjauhan.

***


AUTO REPLY THUNDERBIRD
mengirim file tanpa perlu membuka email!


saya termasuk orang yang sangat protektif terhadap laptop saya, sebab laptop menjadi salah satu penunjang utama dalam pekerjaan dan kegiatan saya. so, saya tidak pernah mengizinkan ada flashdisk asing yang bertengger di pinggiran laptop saya. masalahnya, saya pernah berkutat selama 3 hari hanya untuk membersihkan laptop saya dari virus dan malware yang diternak dari salah satu flashdisk asing. bayangkan, hanya dicolok 30 detik, efeknya saya harus absen dari kegiatan selama 3 hari.

saya sendiri selalu memformat flashdisk saya setiap kali selesai digunakan. sebab, buat saya, flashdisk adalah media transfer data, bukan tempat penyimpanan data. saya lebih suka memanfaatkan cloud system sebagai penyimpanan data seperti yang saya ceritakan diatas.

sehingga, setiap kali saya selesai mengajar atau mengisi kegiatan, saya menolak permintaan file melalui flashdisk. alternatifnya adalah, saya selalu meminta mereka mengirimkan request melalui email. 

cara tersebut memang aman dari serangan virus. tapi masalah baru muncul. saya harus mereply satu-satu email tersebut dengan attachment materi yang saya janjikan. hal ini terasa sekali terutama ketika saya mengajar pelatihan SPSS. saya harus mereply hampir 100 email, walaupun datangnya tidak bersamaan.

akhirnya, setiap kali saya akan mengisi kegiatan, saya sudah mengupload file materi saya di sistem cloud saya. dan setelah selesai mengisi, saya tinggal mengumumkan download link. tapi terkadang shorten url link yang saya berikan sering salah diterima. sebab dengan link berangka dan berhuruf random seperti itu, pasti ada aja yang salah baca atau salah catat.

akhirnya saya menemukan solusinya dengan thunderbird. saya sudah lama menggunakan thunderbird. tapi, saya baru sadar kalau ternyata fungsinya bisa "sehebat" ini.

sekarang, setiap saya selesai mengajar, saya hanya mengumumkan bahwa peserta yang menginginkan materi tersebut hanya tinggal mengirimkan email dengan subjek (judul email) tertentu. dan otomatis dia akan mendapatkan reply email berisikan link utk download materi yang dimaksud.

cukup setting sekedarnya di thunderbird, dan selanjutnya: biarkan sistem yang bekerja. 



So, dengan teknologi seperti sekarang ini, anda masih punya alasan untuk tidak produktif? :)

5 Jul 2014

My "WorkStation"

WorkStation? ya, mungkin itu kata terminologi pertama yang terlintas ketika saya berhasil menyelesaikan hal ini: saya meng-koneksi-kan (connected) beberapa device saya menjadi satu kesatuan dalam satu jaringan. dan ternyata, produktivitas keseharian saya akhirnya menjadi lebih meningkat, walaupun jadi sedikit  timbul 'ketergantungan' terhadap sistem workstation ini.

gambarannya hubungannya seperti ini: