7 Sept 2026

Teh dan BUMN


banget pas masa koloni Inggris di Amerika, teh pernah dianggap komoditas strategis sehingga Inggris ingin mengontrol penuh perdagangannya lewat perusahaan yang ditunjuk negara. Supaya pasar gelap mati, undang-undang dibuat agar jalur distribusi dipotong, membuat harga jualnya jatuh menjadi jauh lebih murah.

Tapi, koloni Amerika tetap menolak. Masalahnya bukan karena tidak suka barang murah, melainkan karena di balik harga miring tersebut ada isu legitimasi dan pengakuan pajak tanpa keterwakilan di parlemen (No taxation without representation).

Hari ini, ada yang mirip. Ketika ada lembaga baru yang disiapkan negara untuk mengonsolidasikan aset dan mengatur komoditas strategis, konsep dan efisiensi di atas kertas tentu terdengar menjanjikan.

Namun, efisiensi harga dan tata kelola baru akan selalu diuji oleh sejarah panjang good governance di sektor publik. Wajar jika sebagian publik tetap kritis dan berhati-hati. Sama seperti warga koloni Amerika yang memilih menolak teh murah, karena mereka yakin harga kedaulatan jauh lebih mahal.

Sebab pada akhirnya, ini bukan sekadar tentang seberapa efisien sebuah komoditas diatur. Tapi tentang seberapa besar kepercayaan publik bisa dipertanggungjawabkan.

25 Aug 2026

When Your Silence is Deafening

When Your Silence is Deafening

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang menuntut segalanya untuk disuarakan, kita sering lupa bahwa kekuatan terbesar tidak selalu datang dari suara yang paling nyaring.

​Kita hidup di era di mana setiap pencapaian seolah wajib dipamerkan dan setiap prinsip harus diperdebatkan. Padahal, integritas tidak diukur dari seberapa keras kita memproklamirkan siapa diri kita, melainkan dari bagaimana kita bersikap saat tidak ada panggung yang melihat.

​Karakter sesungguhnya dibentuk dalam senyap. Nilai diri bukanlah deretan kata untuk meyakinkan orang lain, melainkan keputusan kecil yang diambil secara konsisten dalam diam.

​Tindakan akan selalu lebih nyaring dari sekadar narasi. Ketika prinsip hidup sudah mengakar kuat, kamu tidak lagi merasa perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.

​Ketenangan bukanlah bentuk ketidakmampuan untuk bersuara, melainkan tanda dari jiwa yang sudah selesai dengan urusan validasi.

​You don't need to tell the world your values when your silence is already deafening.

​Sebab di dunia yang makin bising, kadang yang paling berarti adalah yang paling senyap.

17 Jun 2026

Merawat Kebebasan

Mencintai adalah tentang merawat kebebasan, bukan memaksakan ego kepemilikan.

Sama halnya dengan bunga: jika kita mencintainya, kita tidak akan memetiknya. Sebab, memetiknya hanya akan membuatnya layu, mati, dan kehilangan keindahannya.


Mencintai yang tulus adalah menjaga sesuatu tumbuh indah di atas fitrah dan garis takdir yang Tuhan ridhoi, bukan memaksakan kehendak kita.

"Cinta tidak memiliki apa pun, dan tidak ingin dimiliki oleh siapa pun. Karena cinta telah cukup bagi cinta itu sendiri." — Kahlil Gibran

21 Dec 2025

Bencana dan Empati

Bencana dan Empati

Banjir di Aceh kembali menunjukkan satu hal yang sering luput dibicarakan: empati adalah fondasi solidaritas.

Richard Rorty pernah menulis, “It is not rationality but sentimentality which leads us to solidarity.” Solidaritas lahir bukan dari hitung-hitungan kebijakan, melainkan dari kemampuan melihat orang lain sebagai fellow sufferers.

Mungkin itu sebabnya respons seorang pemimpin daerah dapat membangkitkan dukungan luas. Bukan karena kebijakan yang sempurna, melainkan karena kehadiran emosional—karena penderitaan rakyat diakui sebagai penderitaan bersama.

Elite yang hidup jauh dari kerentanan sosial dan berjarak dari pengalaman krisis berisiko mengalami penyempitan empati. Bukan karena niat buruk, melainkan karena tidak pernah terlatih memandang penderitaan orang lain sebagai penderitaan sesama—fellow sufferers. Akibatnya, ketika krisis datang, penderitaan publik tidak dirasakan sebagai penderitaan bersama, tetapi direduksi menjadi persoalan teknis yang harus dikelola.

Di sinilah korelasi itu terlihat jelas: budaya HAM yang rendah berjalan beriringan dengan empati sosial yang lemah.

Hak asasi mudah menjadi formalitas ketika penderitaan tidak lagi dirasakan secara personal.

Maka mungkin, bencana yang sesungguhnya bukan hanya banjir, tetapi nirempati—ketika penderitaan manusia direduksi menjadi laporan, angka, dan prosedur.

Kalau Immanuel Kant menjelaskan mengapa kita wajib peduli; maka Rorty menjelaskan mengapa kita benar-benar peduli.

31 Oct 2025

Kompetensi dan Keadilan

Kadang, tanpa sadar, kita menuntut orang lain untuk bersinar di bidang yang bahkan bukan miliknya. Kita menilai kemampuan bicara dari seseorang yang pekerjaannya padahal menuntut ketelitian, bukan keahlian retorika. Kita menyamakan standar tanpa melihat konteks, lalu heran ketika hasilnya tidak sesuai harapan.

Padahal, kompetensi itu seperti habitat, setiap individu tumbuh optimal di lingkungan yang sesuai dengan perannya. Tidak adil jika kita menilai kera dari caranya berenang, atau mencemooh ikan karena tidak bisa memanjat pohon.

source: reddit

Keadilan dalam menilai bukan berarti menurunkan standar, tapi memahami perbedaan dasar antara potensi dan relevansi. Kita tidak bisa menilai setiap kemampuan dengan satu ukuran yang sama. Ada orang yang unggul karena ketajaman analisisnya, bukan karena kefasihan bicaranya. Ada yang lebih berharga karena kepekaan dan kesabarannya, bukan karena keberaniannya tampil di depan.

Maka sebelum menuntut orang lain untuk “lebih baik”, mungkin kita perlu bertanya dulu: apakah yang saya tuntut memang relevan dengan perannya, atau sekadar proyeksi dari ekspektasi saya sendiri?

Keadilan dalam kompetensi dimulai dari kesadaran: bahwa tidak semua keunggulan harus seragam, dan tidak semua kekurangan berarti gagal.

13 May 2025

Ketika badai datang: manusia tak lari, mereka berubah




Manusia di-design luar biasa untuk beradaptasi. Bahkan sering kali, justru tekanan dari luar itulah yang mengasah mereka menjadi lebih solid, lebih terarah.

Musuh bersama (entah dalam bentuk krisis, perubahan, atau tekanan) bisa menjadi pemicu kohesi yang sebelumnya tak disadari.

Bukan karena mereka sepakat dalam segalanya. Tapi karena mereka sepakat untuk bertahan bersama.

Lewis Coser, sosiolog teori konflik, dalam bukunya The Function of Social Conflict, menuliskan:

"Conflict with outsiders tends to increase the internal cohesion of the group, to mobilize its energies and to strengthen its consciousness of its own identity."

Maka saat tantangan datang dalam sebuah komunitas kelompok, jangan buru-buru melihatnya sebagai beban. Lihat potensinya sebagai pemersatu.

Karena ini bukan tentang manusia yang bertahan. Tapi tentang mereka yang bertumbuh bersama.

10 Sept 2024

The Paradox of Choice (#3): Plenty Choice and Anxiety

Setelah memahami dua konsep #1 dan #2 yang saya tulis sebelumnya, ternyata "kesulitan dalam memilih" dan "anxiety" memang terhubung kait oleh sistem fisiologis otak kita yang kompleks ini.

Premis sederhananya kurang lebih seperti ini: Ketika banyak opsi, kita jadi bingung opsi mana yang paling worth. Kebingungan tersebut membuat sulit untuk mengambil keputusan (analysis paralysis), sehingga menghadirkan situasi yang tidak pasti (uncertainty). 

Uncertainty inilah yang membuat kecemasan dan tubuh merespon dengan "banjirnya" hormon noradrenaline. 

 --
Ada dua buku yang di antaranya dikutip dalam The Paradox of Choice. Judulnya "The American Paradox: Spiritual Hunger in The Age of Plenty" dan "The Loss of Happiness in the Market of Democracies". Dari judulnya kita sudah tahu apa message dari buku-buku tersebut. 

Buku pertama yang ditulis oleh ahli psikologi David Myers mendeskripsikan fakta statistik di US, bahwa sejak tahun 1960-an perceraian meningkat dua kali lipat; tingkat bunuh diri pada remaja meningkat tiga kali lipat; kriminalitas meningkat 4x lipat, dan seterusnya. Freedom of choices yang disangka meningkatkan taraf well-being, ternyata malah terjadi berkebalikannya. 

-- 

Fakta dalam sejarah perjalanan manusia, ternyata hal-hal yang membuat kita bahagia itu bukanlah hal yang membuat kita bebas. Tapi justru hal yang mengikat kita. Relationship yang membuat kita bahagia, karena ada batasan-batasan di dalamnya. 

Keluarga yang membuat kita bahagia, karena ada rules dan value di dalamnya. Ketika seseorang ingin berada dekat dengan keluarga, tentu dia akan mengeliminasi lokasi pekerjaan yang membuatnya jauh dari keluarga. Value yang kita pilih untuk membahagiakan kita, secara tidak sadar ternyata membuat kita mengerucutkan pilihan-pilihan dalam hidup. 

Happiness limits our own possibilities. 
But less is more.

25 Mar 2024

The Paradox of Choice (#1): Analysis Paralysis

Kita pasti berpikir, memiliki limitless option and choice itu menyenangkan, karena bisa memenuhi personal choice masing-masing. The more choice, the better. Gitu katanya.

Photo by Jon Tyson on Unsplash


Kita tahu manusia memiliki keinginan dan desire terhadap  pilihan yang tidak terbatas dan kita mungkin percaya bahwa manusia memiliki kemampuan untuk me-manage opsi-opsi tersebut.

Well, Dr. Barry Schwarts dalam buku The Paradox of Choices menjelaskan bahwa pada titik tertentu, jumlah pililhan akan meningkatkan kebahagiaan. Tapi jika pilihan terlalu banyak, justru membuat happiness seseorang akan berkurang.

-

Tahun 2000, ada studi yang berjudul menarik: "When Choice is Demotivating: Can One Desire too Much of a Good Thing?" 

Dalam experiment tersebut, sebagian orang diberikan pilihan 24-36 jenis rasa selai yang berbeda-beda. Di saat yang lain, mereka diberikan pilihan 6 jenis rasa saja. 

Hasilnya? Opsi yang lebih sedikit memiliki tingkat penjualan 10 kali lebih banyak. Limited option changes consumer purchasing behavior.

Ketika terlalu banyak pilihan, maka otak kita jadi terlalu banyak pertimbangan, akhirnya malah ga bisa ambil keputusan (analysis paralysis). 

Dalam konteks purchasing behaviour ini, otak kita akhirnya mensimplifikasi dengan "duh bingung pilih yang mana, yaudah dari pada nanti nyesel salah pilih, ga jadi beli aja deh".

-

Sekarang saya jadi paham, kenapa dalam meeting yang bersifat strategic, pembahasan sudah mengerucut pada sedikit opsi pilihan apa yang akan diambil. Dan bahkan sudah tidak lagi membahas "how-to" nya.

dan dalam level personal, membatasi pilihan membuat psikologis kita lebih rileks dan terhindar dari anxiety.

So, let's start to made less option.



20 Oct 2023

The possibilities of automation are at your hand



Coba pikir deh, ada banyak rutinits dalam pekerjaan atau bahkan kehidupan yang bisa diback up oleh automasi.

Cukup dgn event sebagai trigger, dan selanjutnya step automation ambil alih.

Contoh simple yang saya terapkan di kehidupan,

Trigger: matikan alarm pagi.

Action: nyalakan lampu, buka gorden, matikan AC.

Trigger: "hi siri, good night"

Action: night lamp is on, alarm is set, door alarm is active, AC sleep mode. 

Kalau dalam pekerjaan, wah banyak sekali possibilities-nya karena kita seringkali terjebak dalam rutinitas administratif. 

Example,

Trigger: di database pelamar, saya jadwalkan interview dgn hanya menginput tanggal interview.

Automation: generate link interview, serta merging data lain dari database yang sudah ada, lalu mengirimkan email undangan ke kandidat. 

Atau contoh lain yang udah banyak banget pakai,

Trigger: peserta training isi post-test.

Automation: generate sertifikat of attendance nya dan kirim langsung ke email trainee.

Atau ada lagi yang lebih simple lagi,

Trigger: H-30 end of Contract karyawan

Automation: Generate kontrak yang baru, kirim email ke HR or atasan untuk review.

---

Mereka yang resistance to change bakal bilang "alah itu kan pekerjaan simple, ngetik itu paling 5 menit jadi"

Jawabannya, "justru karena simple kenapa ga diserahkan ke automasi aja? 5 menit kalau 30 processes per day, kita udah nyumbang 1/3 FTE workload"

---

Si resistance: "Tapi bikinnya kan butuh waktu?"

Me: "pay now play later, or play now pay later?"

---

Pointnya, saya cuma pengen build awareness ke orang-orang, kalau kita bisa kok bekerja dgn cara baru (yang gak baru-baru amat juga, FYI saya main beginian since 2017).

Premisnya sudah jelas: "segala sesuatu yang rutin dan berulang bisa di-automasi."

Come on, ini 2023 di luar sana udah bertaburan AI, Dan kita masih alergi dengan automasi?

Dan percaya deh, kita akan sulit berpikir yang besar, kalau kita masih terpenjara oleh hal-hal kecil.


13 Oct 2023

Time Flies: No Code Development Platform

Time Flies: No Code Development Platform

Pertengahan 2016, saya dan temen-temen lagi bantuin prodi psikologi untuk proses borang akreditasinya saat itu. Buat temen-temen yang pernah terlibat proses akreditasi, pasti tahu banyak banget dokumen yang harus disiapkan dalam rangka borang tersebut. 

Dan diantara dokumen yang dibutuhkan sebagai lampiran, banyak sekali dokumen yang kita lihat punya pola, dan hanya berbeda di detail isiannya saja. Let's say seperti surat keterangan aktif kuliah, itu kan isinya sama saja, tinggal ganti detail profil mahasiswanya saja. 

Jawabannya udah pasti: merging files. 

Tapi ternyata kebutuhan kita lebih dari itu, karena source data harus crowd source, inputan data harus secara online.

--- disinilah cerita bermula ---

Pertengahan tahun 2016, saya dan temen-temen lagi bantuin prodi psikologi untuk proses akreditasinya. Buat temen-temen yang pernah terlibat proses borang akreditasi, pasti tahu banyak banget dokumen yang harus disiapkan untuk proses tersebut. 

Untuk menyiasati itu, saya buat google script supaya dokumen sheet dan doc bisa merging secara online. Sangat useful (di zamannya) walaupun ngebuatnya lumayan rumit buat saya yang ga punya basic coding (see picture 1). Dibantuin @Wahyu Prayogo dan @Maulid Sidiq untuk check error di codenya. 

Dan hanya dalam 2 tahun kemudian, di 2018, script tersebut tidak lagi saya gunakan karena ada metode baru yang lebih mudah dan lebih reliable: pakai add-on. Kalau yang ini korban trialnya adalah @Dwi Putra.

Ternyata, ga berhenti disitu. Start tahun 2020an, adaptasi lagi dengan perkembangan baru, add-on tersebut mulai tergeser dengan adanya low code development platform (LCDP). Kata McKinsey Global Survey sih memang pandemi saat itu bikin digitalisasi berkembang 2-3 tahun lebih cepat. Saya mulai pakai Power Apps-nya Microsoft.  

Long story short, lihat timelinenya untuk insight dari cerita ini. 4 tahun aja. 

Anggap kalau seandainya gw mahasiswa, dan ketika di semester 1 belajar google script, berarti pas lulus (kalau lulusnya 4 tahun ye…) apa yang dipelajari di semester 1 itu udah obsolete dan ga mulai gak laku. 

Tapi inget ya, gw ini cuma basic user. It doesn’t mean apa yang gw sebutin itu sekarang sama sekali useless. Mungkin aja masih berguna untuk orang-orang yang yang berada di bidang spesifik lainnya. Hanya saja, buat gw yang mengutilisasi tools tersebut dalam daily basis pekerjaan as HR, shifting-nya digitalisasi ini berasa cepat banget. 

Oh ya, ini udah 2023.

Dan untuk kebutuhan saya yang sama, LCDP udah mulai terganti dengan NCDP (no code development platform). Well, harus adaptasi lagi. 


5 Nov 2021

Cara Dia Berterima Kasih

Cara Dia Berterima Kasih
Saat itu sore hari di Sukabumi. Saya sedang belajar di ruangan saya, mengejar ketertinggalan saya dalam mata kuliah Bahasa Arab. Latar belakang saya yang lulusan SMU Umum, ternyata menjadi tantangan besar untuk menempuh pendidikan Studi Bahasa Arab saat itu. Berbeda dengan teman-teman lainnya yang rata-rata jebolan aliyah atau bahkan pesantren.

Saat sedang asik mengulang pelajaran, tiba-tiba terdengar ketukan pintu, disusul suara yang memanggil dalam bahasa arab namun bernuansa logat medok jawa, yang artinya "lagi sibuk? Saya perlu P3K"

Saat itu saya memang mengemban amanah lain disamping sebagai pelajar. Mereka para petinggi sekolah tinggi tersebut, menganggap background saya sebelumnya yang pernah belajar kesehatan bisa dimanfaatkan dengan menjadi penanggung jawab Bagian Kesehatan.

Saya lalu membuka pintu. Terlihat teman yang berasal dari Tegal (ga heran bahasa arabnya berlogat medhok, hehe) tersenyum tapi sambil merintih. Dia menunjukkan jempol kakinya yang terluka akibat main bola lapangan.

Saya mencoba membersihkan lukanya, lalu melakukan tindakan yang diperlukan, dan diakhiri dengan memberikan perban pada kakinya tersebut.

Singkat cerita, beberapa pekan kemudian setelah beberapa kali ganti perban, kakinya sudah mulai sembuh, dan tibalah pada penggantian perban yang terakhir. Artinya, tidak perlu ada "kontrol" lagi.

Setelah prosesi selesai, dia pun mengucap terima kasih dengan senyum lega terukir di wajahnya, lalu keluar dari ruangan P3K itu.

Namun tak lama, tiba-tiba dia kembali lagi. Dia membawa sarung yang membulat karena ditengahnya ada terbungkus sesuatu. Kemudian, dia letakkan sarung itu di atas meja saya, lalu dengan hati-hati membukanya.

"Ini ada sesuatu dari saya, mohon maaf ga seberapa...", ucapnya sambil mengeluarkan beberapa makanan ringan yang diborongnya dari kantin kampus. Jumlahnya tidak banyak memang, tapi sangat bervariasi.

Saat itu hati saya tersentak. Saya tahu dia bukan berasal dari keluarga menengah keatas. Penampilannya sangat sederhana. Hingga bahkan kita bisa hapal baju yang dipakainya, karena sepertinya dia cuma punya 3-4 lembar baju yang dipakainya sehari-hari, namun selalu tetap tampil bersih dan rapi. Bahkan sarung yang digunakan untuk membawa cemilan itu pun, sudah terlihat lusuh dan tua.

Dia bukan orang yang kelebihan uang, tapi dia mau berkorban untuk sekedar berterima kasih.

Saya banyak belajar dari kejadian tersebut. Bahwa berterima kasih tidak perlu dalam wujud yang mahal dan ribet. Dia sangat paham kebiasaan saya yang hobby ngemil. Dan disitulah cara dia berterima kasih.

Sebenarnya, senyuman lega yang menghias wajahnya, sudahlah cukup membuat saya bahagia karena menolongnya. Tapi, dibalik kesederhanaan dan keterbatasannya secara finansial, dia tetap punya cara untuk berterima kasih.


4 Nov 2016

Jangan Salahkan Orang yang Membenci Kita

Jangan Salahkan Orang yang Membenci Kita
Kalau Anda terpilih jadi pemimpin, jangan sampai pengikut anda merasa telah salah memilih pemimpin.

Kalau Anda diangkat menjadi orang kepercayaan, jangan sampai orang yang mengangkat Anda merasa telah salah memilih orang kepercayaan.

Kalau Anda menjadi teman, jangan sampai teman Anda merasa telah salah memilih teman.

Terkadang, orang benci kita bukan karena mereka lahir sebagai pembenci.
Tapi karena perilaku kita yang memang tidak layak dicintai.

8 Sept 2016

Sentralisasi Kepemimpinan: Masih Jaman?

Sentralisasi Kepemimpinan: Masih Jaman?
Ketika sedang asyik santai, saya ditanya oleh teman tentang pendapat saya terhadap sentralisasi kepemimpinan. "Mengharuskan seluruh detail organisasi melalui jalur pemimpin", tambahnya menjelaskan kondisi yang dimaksud. Saya hanya mengernyitkan dahi, sambil berkata, "emang masih jaman?"


*Logika Sederhana*

Saya tidak perlu berpikir rumit, untuk memberikan pernyataan bahwa pemimpin model seperti itu berarti pemimpin yang tidak siap untuk membawa institusi yang dipimpinnya menjadi besar.

Ambil saja contoh sederhana. Ketika Anda belum memiliki KTP, apakah harus menghubungi Presiden RI sebagai pucuk pimpinan tertinggi di negara kita?
Ketika kita ingin mengurus beasiswa di kampus, apakah kita harus mengejar jadwal kesibukan Rektor untuk meminta persetujuannya?

Kedua contoh sederhana itu menandakan, bahwa pemimpin yang besar, dan bercita-cita besar mempercayai organisasinya. Presiden percaya bahwa SKPD terkait hingga unit terkecil dapat menyelesaikan masalah KTP tersebut. dan Rektor percaya, bahwa sistem birokrasi yang dibentuk mampu menyalurkan beasiswa secara proporsional.

Pemimpin besar tidak disibukkan oleh hal-hal kecil. Tapi dia percaya bahwa organisasinya mampu menyelesaikan hal tersebut.

*Bukti Sejarah*

Tahun 1945, Soekarno dielu-elukan oleh seluruh masyarakat Republik yang baru terbentuk ini. Tapi, siapa sangka, seiring perjalanan kepemimpinannya, Soekarno memperlihatkan gelagat sentralisasi kebesarannya sebagai pemimpin: membentuk demokrasi terpimpin, membubarkan parlemen, ingin menjadi presiden seumur hidup, membatasi dan membubarkan partai politik, mengambil alih pimpinan Angkatan Bersenjata, dan lain sebagainya. Pokoknya, dia ingin segala sesuatunya dikendalikan dari tangannya.

Hasilnya apa? Demokrasi terpimpin yang diciptakannya, justru memupuk kebencian. Tahun 1966, tokoh yang dulu begitu dicintai ini dibenci oleh nyaris seluruh rakyat saat itu. Hingga beralih pada masa orde baru.

Masa orde baru pun akhirnya lama-kelaman mulai tersentralisasi. Bermula dari UU No. 5 tahun 1974 yang mengatur tentang pemerintahan daerah dengan sangat sentralistik. Sistem pertahanan dan keamanan terpusat pada komando The Smiling General. Semua kebijakan dan peraturan daerah dikendalikan oleh pusat. Daerah hanya memiliki wewenang untuk menjalankan dan menerapkan peraturan yang sudah dibuat oleh pusat. Bahkan posisi pejabat daerah, harus mendapat restu dulu dari pemerintah pusat. Pokoknya pemerintah pusat ga mau ketinggalan untuk campur tangan urusan daerah, walau yang terpencil sekalipun.

Hasilnya apa? Tahun 1998 adalah puncak kejemuan rakyat. Tokoh yang dulu dicintai karena berhasil menumpas PKI tahun 66 itu, justru dibenci dan dihina.

See? Sejarah bangsa membuktikan, bahwa sentralistik pada pemimpin ternyata hanya mengubah cinta follower menjadi kebencian.

*Teori Kepemimpinan*

Masyarakat sekarang ini lebih cerdas, walaupun kadang kebablasan dengan dalih "kebebasan berpikir"-nya. Tapi, melihat kecenderungan zaman sekarang, orang sudah lebih kritis dan tidak lagi mau hanya dipimpin secara otoriter. Orang yang independen akan lebih senang jika diberi kepercayaan dibanding dikontrol secara terus menerus.

Lihat saja anak-anak zaman sekarang, mereka akan "berontak" kalau diasuh dengan pola otoriter. Mereka menuntut untuk diberikan kepercayaan dan independensi dalam beberapa hal. Itulah yang dikenal dengan pola authoritative yang diperkenalkan oleh Diana Baumrind (jurnal Effects of Authoritative Parental Control on Child Behavior, 1966).

Dalam hal kepemimpinan, Daniel Goleman (dalam Emotional Intelligence) menjelaskan kepemimpinan authoritative merupakan kepemimpinan yang paling berefek positif dalam lingkungan organisasi.

*Konklusi*

Akhir abad 18 saja, kepemimpinan sentralistik sudah dikritik. John Dalberg Acton mengatakan "power tends to be corrupt, but absolute power is corrupt absolutely" (kekuasaan membawa kecenderungan korupsi. Tapi kekuasaan mutlak sudah tentu sebuah korupsi).

So, di abad 21 ini masih ada orang dengan kepemimpinan sentralistik yang ingin ngatur segalanya? emang masih jaman?


--

3 Jul 2016

Makna Minal Aidin wal Faizin

Makna Minal Aidin wal Faizin

Ramadhan sudah diujung. Syawal menanti. Pernak-pernik ala-ala lebaran sudah mulai terlihat. Diantaranya kartu-kartu ucapan lebaran, dengan bubuhan teks dibawahnya "Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir Batin".

Ternyata, bukan secara tertulis saja. Saya pernah ketika silaturahim ke kerabat, setiap bersalaman dengan orang lain, dia mengucapkan "minal aidin". Saya konfirmasi tentang itu, dan dia bilang "karena itu artinya maaf lahir batin". What!?

karena kedua kalimat ini selalu digandeng,
tidak heran orang malah jadi keliru akan maknanya.


***
‎Ucapan Hari Raya yang Dicontohkan

Banyak hadist dan atsar shahih yang menjelaskan tentang hal ini. ‎Dan semua bernada sama, bahwa yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah "taqabbalallahu minna wa minkum". تقب الله منا و منكم
Yang artinya "semoga Allah menerima (amal ibadah) kami dan kamu sekalian". 

Kemudian, generasi sahabat menambahkan secara spesifik ibadah yang dimaksud, sehingga menjadi "taqabbalallahu minnaa wa minkum, shiyamanaa wa shiyamakum", تقبل الله منا ومنكم صيامنا وصيامكم
"semoga Allah menerima (amal ibadah) kami dan kamu sekalian, puasaku dan puasamu".‎ 

‎***
‎Lalu, Dari Mana Minal Aidin Nongol?

Banyak versi yang menjelaskan tentang ucapan minal aidin ini. Tapi, sesuai kapasitas saya, saya hanya bahas secara etimologis saja. 

Diantara versi yang ada, menjelaskan bahwa "minal aidin wal faizin" ‎adalah ucapan orang-orang terdahulu ketika kembali dari perang. Sebab artinya "semoga kita kembali dalam keadaan menang". 

Ucapan itu kemudian diapakai (entah sejak kapan) ketika hari raya, sebab telah usai berperang melawan nafsu ketika ramadhan.

Versi yang lain, "Aidin" عائدين diartikan sebagai "orang-orang yang sedang ied". Ied memang berarti "kembali", sebab, hari idul fitri akan terus "kembali", terulang setiap tahunnya. (Oh ya, btw, idul fitri artinya bukan kembali kepada fitrah! Another wrong translation)

Jadi, berdasarkan versi ini, minal aidin wal faizin diartikan "semoga kita menjadi pemenang di hari ied". Artinya, semoga amal ibadah puasa diterima, sehingga di hari ied dianggap pemenang oleh Allah. 

‎Kita bisa lihat, bahwa secara translation saja, minal aidin ga ada hubungannya sama maaf-maafan. Saya tidak tahu, sejak kapan ucapan ini disematkan dan dibelokkan maknanya menjadi "maaf lahir batin". ‎Hingga akhirnya media dan televisi menyebarluaskan kesalahan ini dan membodohi masyarakat. 

***
Boleh Ucap Minal Aidin?

‎Namanya do'a, ya boleh saja. Tapi, jika niatnya ingin mencontoh nabi, maka utamakan ucapan "taqabbalallahu minna wa minkum" dulu, baru tambahkan "minal aidin wal faizin". 

Berdoa mah boleh-boleh saja tiap waktu. Malah Tuhan senang dengan hamba yang berdo'a. Yang penting, tahu maknanya, dan sesuai pada tempatnya‎. Jangan cuma ikut-ikutan televisi. 

Kita berlindung kepada Allah dari kejahilan yang sistematis.
Semoga tulisan ini mencerdaskan dan bermanfaat.

Selamat Hari Raya
تقبل الله منا و منكم صيامنا و صيامكم
من العائدين و الفائزين
كل عام و أنتم بخير

salam,
Ince Ahmad Furqan





8 Jun 2016

Hadirkanlah Cinta

Hadirkanlah Cinta


Energi cinta itu luar biasa. 

Seorang Ibu bisa berkorban sedemikian rupa kepada anaknya, karena cinta yang murni.

‎Pasangan suami istri yang berbeda karakter, bisa bersatu karena cinta. Bahkan dua keluarga pun bisa dilebur disatukan karena cinta mereka berdua. 

Seorang sahabat mau berkorban ‎demi kebaikan temannya, karena ada cinta persahabatan antara mereka.

Seorang manusia yang beribadah, jika dilakukan dengan cinta maka akan merasakan khusyuk dan syahdu dalam ibadahnya.

Seseorang yang bekerja, tidak akan merasakan beban berarti, bahkan dia merasa enjoy, jika dia cinta pekerjaannya.

‎Cinta itu luar biasa. Mengubah dimensi sudut pandang kita terhadap sesuatu hal.
Tidak akan ada kesulitan, kesukaran, dan beban yang berarti dalam hidup, jika kita mampu menghadirkan cinta dalam setiap sudut relung hidup kita.

Hadirkanlah cinta, kita akan bahagia.

‎*
mahasiswa bisa santai menghadapi mata kuliah yang sulit, jika mereka bisa menghadirkan cinta. 
but, cinta mata kuliahnya ya, jangan cinta dosennya. :)

18 May 2016

Hari Buruh?

Hari Buruh?
Secara pribadi, saya kurang nyaman dengan sounding hari buruh yang menurut saya berlebihan, walaupun dianggap sebagai bagian dari peringatan hari internasional.



Hal ini bukan berarti saya antipati terhadap nasib kaum buruh. Nasib buruh jelas harus diperhatikan, terlepas dari statusnya sebagai buruh. Saya mendukung perlakuan yang ideal bagi kesejahteraan buruh, bukan karena mereka buruh. Tapi karena mereka adalah manusia. Penegakan keadilan itu kewajiban, tanpa menunggu hari atau momen tertentu.

Sudah seharusnya, keadilan oleh pemerintah harus ditegakkan kepada seluruh elemen warga negaranya: buruh, petani, nelayan, pegawai sipil, militer, dsb. Maka apakah perlu kita membuat hari-hari spesial untuk masing-masing klasifikasi tenaga kerja?

Hari Buruh, walaupun diadopsi juga oleh negara non komunis di Eropa, tapi sejatinya merupakan hasil dari pergerakan kaum komunisme dan marxisme, keduanya merupakan ideologi politik yang menarik, namun sudah usang untuk diterapkan. Sebab, terbukti kegagalannya dalam menghadapi dunia di era baru.

Rusia terpecah digerogoti oleh paham sosialisnya. Bahkan, Cina/Tiongkok mulai menjadi negara adidaya di belahan timur bukan karena republik kerakyatannya, tapi justru karena perekonomiannya mulai ala-ala kapitalis: berorientasi ke pasar dan banyak bermunculan pengelolaan swasta.

Konklusinya, perubahan bisa terjadi bukan karena kita memperingati hari buruh atau tidak. Tapi lebih pada action kita memperjuangkan keadilan yang memang diperintahkan dalam agama. Ingat Hadist tentang membayar upah pekerja sebelum keringatnya kering? Hadist itu ada jauh sebelum peringatan hari buruh dicetuskan.

23 Apr 2016

Kenapa Kamu Terus Berbuat Baik?


dibenci manusia tidak mesti menjadikan kita penduduk neraka.
tapi, kalau dibenci Tuhan, siapa yang bisa menjamin kita surga?


ketika studi di Jawa Barat dulu, saya terkesan dengan seorang senior. wajahnya teduh dan selalu menebar senyum, namun kantung matanya legam. tampak tanda-tanda kurang tidur di wajahnya.

ternyata, sebagian waktunya habis digunakan untuk mengajari junior-juniornya untuk mengejar ketertinggalan pelajaran di kampus, saya salah satunya. kemudian dia gunakan sisa malamnya untuk belajar bagi dirinya sendiri.

entah kenapa, ada saja orang yang tidak suka dengannya. mungkin karena dia memilih untuk mengajar junior menggunakan bahasa Indonesia, sebuah hal yang "haram" digunakan di kampus berbahasa arab itu.

tapi, karena kecerdasannya, dia tetap menjadi tempat bertanya, bahkan oleh para 'musuhnya' itu.

saya bertanya, "kenapa mengasihi orang yang membenci kita?"

"pro dan kontra itu biasa. bahkan dalam kebaikan. tidak masalah kita dibenci, asal kita dalam kebaikan.
itu lebih baik, daripada kita berhenti berbuat kebaikan untuk menyenangkan sebagian orang,
tapi Tuhan malah benci karena manfaat kita tidak mengalir lagi.

dibenci manusia tidak mesti menjadikan kita penduduk neraka.
tapi, kalau dibenci Tuhan, siapa yang bisa menjamin kita surga?"


***
terakhir dia menelepon saya, sekitar 2 tahun lalu, dan dia sudah berdomisili di Arab Saudi.
tapi percakapan itu akan terus menginspirasi, tentang kenapa kita harus TERUS berbuat baik.